7 Fakta Soal Transaksi RI Tak Lagi Pakai Dolar AS ke Sejumlah Negara

7 Fakta Soal Transaksi RI Tak Lagi Pakai Dolar AS ke Sejumlah Negara

Sejumlah negara sudah tidak bertransaksi pakai dolar Amerika Serikat (AS) dengan Indonesia. Kini, transaksi tersebut dilakukan melalui bank sentral masing-masing dalam melakukan transaksi bilateral.

Tren ‘cerai’ dari dolar Amerika Serikat (AS) atau disebut dedolarisasi tengah dilakukan oleh beberapa negara maju, seperti China, Rusia, dan Jepang. Tapi bukan hanya negara maju, negara berkembang pun mulai melaksanakan hal serupa. Agar mata uang lokal bisa dipakai untuk transaksi antarnegara atau untuk memperkuat transaksi di dalam negeri.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mengaku sudah menuntaskan transaksi pemakaian mata uang lokal antarnegara atau locas surrency settlement (LCS) bagi Indonesia dan China. Kesepakatan ini sudah diteken oleh Gubernur PBC Yi Gang dan Gubernur BI Perry Warjiyo tertanggal 30 September 2021.

Dengan demikian, transaksi antar kedua negara, Indonesia dan China, tidak lagi menggunakan dolar AS seperti yang telah dilakukan sebelumnya. Dolar AS sendiri umumnya dipakai dalam transaksi antarnegara karena dolar adalah mata uang resmi dalam perdagangan internasional selama ini.

Lantas, Bagaimana Fakta-fakta negara yang sudah tidak bertransaksi pakai dolar AS dengan Indonesia?

1. Indonesia Telah Memakai Skema LCS dengan Negara Lain.

LCS sendiri merupakan penyelesaian transaksi bilateral dengan memakai mata uang masing-masing negara. Transaksi ini dilaksanakan di bawah aturan hukum masing-masing negara. Sebelum dengan Negeri Tirai Bambu, Indonesia sudah menerapkan skema LCS dengan Malaysia, Thailand, dan Jepang.

Kesepakatan tersebut terjadi sejak akhir tahun 2017 atau ketika BI di bawah kepemimpinan Agus Martowardojo. Kala itu, kesepakatan tersebut dilaksanakan bersama dengan Gubernur Bank of Thailand, Veerathai Santiprabhob dan juga Gubernur Bank Negara Malaysia, Muhammad bin Ibrahim.

Setelah Thailand dan Malaysia, Indonesia juga telah melepaskan dolar AS untuk melakukan transaksi bersama dengan Jepang. Kesepakatan tersebut diperoleh lewat kesepakatan yang disetujui antara BI dengan Kementrian Keuangan Jepang, akhir tahun 2019 lalu.

2. Manfaat transaksi dengan skema LCS

Bank sentral nasional percaya bahwa kesepakatan tersebut akan memberikan dampak berbentuk penguatan pertukaran informasi dan diskusi secara berkala, meningkatkan kerja sama keuangan bilateral, sampai meningkatkan transaksi keuangan menggunakan mata uang lokal yang berasal dari masing-masing negara.

Selain itu, dengan menggunakan mata uang lokal akan memudahkan nilai tukar kedua negara, karena tidak usah dikonversikan dengan mata uang pihak ketiga. Dari kemudahan tersebut, diyakini kerja sama dagang dan investasi akan semakin menggeliat ke depannya.

Kemudian, transaksi dengan mata uang lokal juga akan menumbuhkan diversifikasi produk dagang dan nilai perdagangan. Untuk sistem keuangan, gejolak nilai tukar masing-masing mata uang dapat lebih terjaga dan stabil. Terakhir, akan memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi di negara masing-masing.

3. Supaya tidak ketergantungan dengan dolar AS

Salah seorang ekonom INDEF, Rusli Abdullah mengatakan bahwa transaksi ini akan mempunyai dampak baik untuk Indonesia supaya tidak terlalu ketergantungan dengan dolar AS. Ia juga mengatakan bahwa China merupakan partner dagang tersbesar untuk Indonesia. Bila penyelesaian memakai mata uang masing-masing tentunya akan meningkatkan volume perdagangan antar kedua negara.

4. Volume nilai perdagangan meningkat

Hingga dengan September 2021, penyelesaian transaksi bilateral dengan memakai uang lokal dari kedua negara tercatat sudah mencapai setara dengan USD109,4 juta per bulan. Naik 10 kali lipat sejak awal penerapan 2020 USD9,8 juta.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti menjelaskan bahwa percepatan penerapan skema LCS dengan mitra dagang utama dilakukan untuk mempercepat Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Terlebih untuk sektor ekspor-impor serta investasi.

Jepang, kata Destry, tercatat menjadi mitra dagang terbesar kedua untuk Indonesia dari sisi ekspor, dan ketiga untuk impor. Dengan hadirnya kerja sama LCS tersebut, volume dan nilai perdagangan sampai investasi kedua negara diharapkan semakin meningkat.

5. Mengurangi volatilitas rupiah terhadap dolar AS tapering

Sampai kini belum ada rencana kapan bank sentral AS The Fed akan menaikkan suku bunga menyusul pulihanya ekonomi mereka sesudah dihantam pandemi Covid-19. The Fed mempunyai rencana untuk mengurangi stimulus alias tapering akhir tahun ini. Tentunya, ini akan berdampak terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia.

Volatilitas adalah ketidakstabilan atau naik turunnya nilai sebuah mata uang dan juga terdapat beberapa faktor yang memengaruhi, contohnya volume perdagangan, hutang pemerintah, stabilitas politik, dan juga suku bunga.

6. Diperluas ke pasar uang

Dalam sebuah kesempatan, Gubernur BI, Perry Warijoyo menjelaskan bahwa aturan tersebut bukan hanya berlaku untuk transaksi perdagangan antara Indonesia dengan negara-negara yang telah menyepakati. Pemakaian kedua mata uang tersebut akan diperluas ke dalam sektor lain, contohnya berbagai produk pasar uang.

Hal ini, kata Perry, juga akan disampaikan ke bank-bank yang ditunjuk guna memfasilitasi LCS untuk transaksi pasar uang seperti valuta asing sampai Surat Berharga Negara (SBN).

7. Bank yang terlibat di Indonesia

Masing-masing bank sentral telah menunjuk bank di negara mereka guna menjalankan kesepatakan tersebut. Sejumlah bank yang ikut terlibat di Indonesia antara lain PT Bank Republik Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, PT Bank Central Asia Tbk atau BCA, PT Bank CIMB Niaga Tbk, serta PT Bank Maybank Indonesia Tbk. [Red]


Sumber: Viva