5 Kasus Pembunuhan Berantai dan Mutilasi Paling Sadis di Indonesia

5 Kasus Pembunuhan Berantai dan Mutilasi Paling Sadis di Indonesia



Kisah kasus pembunuhan berantai dan sadis selama ini banyak terjadi di luar negeri. Namun rupanya, kisah kejahatan serupa juga pernah terjadi di Indonesia dan tak kalah mengerikan karena dilakukan dengan cara mutilasi.

Dari sekian banyak kasus pembunuhan di Indonesia, setidaknya ada lima kasus yang pelakunya tergolong keji melakukan pembunuhan terhadap korbannya.

Dihimpun berbagai sumber, kasus-kasus pembunuhan itu terjadi medio 1990-an hingga 2000-an. Beberapa di antaranya bahkan melakukan kekerasan seksual sesudah atau sebelum membunuh korbannya yang masih anak-anak.

Berikut pembunuhan sadis yang pernah terjadi di Indonesia dengan jumlah korban lebih dari dua orang.

1. Robot Gedek

Kasus Robot Gedek sempat membuat geger warga Jakarta dan menghiasi pemberitaan di tahun 1996. Pria bernama asli Siswanto ini terbukti melakukan pembunuhan terhadap 12 orang anak laki berusia 9-15 tahun. Semua pembunuhannya dilakukan antara 1994-1996.

Pria tuna wisma dan buta huruf ini terkenal karena aksi pembunuhannya tergolog keji dan kejam. Robot Gedek diketahui menyodomi para korbannya lalu membunuh mereka. Robot Gedek memutilasi jasad korban menjadi beberapa bagian.

Bagian-bagian tubuh korban kemudian dibuang secara terpisah di beberapa tempat seperti di Pondok Kopi, Jakarta Timur, dan di rawa-rawa sekitar bekas Bandara Kemayoran, Jakarta Pusat. Dari 12 korban, hanya 8 korban yang jasadnya berhasil ditemukan kepolisian.

Siswanto sempat buron dan kabur ke Jawa Tengah sebelum akhirnya berhasil ditangkap. Dia kemudian divonis pengadilan hukuman mati. Selama menunggu eksekusi mati dia mendekam di Lapas Nusakambangan, Cilacap. Namun, belum sempat dieksekusi, pada 26 Maret 2007 dia meninggal karena serangan jantung.

2. Babe

Baekuni alias Babe juga tak kalah kejam dari Robot Gedek dalam melakukan aksi pembunuhan terhadap korban yang juga anak-anak. Babe yang merupakan penjual rokok di kawasan Terminal Pulogadung, Jakarta Timur itu diketahui memelihara anak-anak jalanan.

Dia juga melakukan sodomi kepada anak-anak jalanan yang dipeliharanya. Dia bahkan tak segan membunuh jika anak-anak itu tak mau melayani birahi Babe.

Pembunuhan yang dilakukan Babe diperkirakan sudah terjadi sejak 1998. Meski begitu, pembunuhan dengan cara mutilasi baru dilakukan Babe pada 2007.

Babe kemudian ditangkap pada 2010. Dari pemeriksaan terhadap dirinya, dia mengaku membuang beberapa tubuh korban mutilasi di lokasi berbeda. Seperti di Terminal Pulogadung hingga Pasar Klender, Cakung, Jakarta Timur.

Babe mengaku ada 14 anak yang menjadi korban aksi kejinya. Namun polisi menduga masih banyak korban lain yang belum terungkap. Sebab setidaknya masih 50 anak jalanan lagi yang selama medio tersebut tidak ditemukan keberadaannya. Atas perbuatannya Babe dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan.

3. Ryan Jombang

Very Idham Henyansyah alias Ryan merupakan pembunuh berantai yang menjadi headline pemberitaan nasional pada tahun 2008. Pria yang kemudian dijuluki sebagai Ryan Jombang ini diketahui menghabisi 11 orang dalam rentang waktu 2006-2008.

Ryan yang merupakan homoseksual ini melakukan pembunuhan di dua lokasi, yakni Jakarta dan kampung halamannya, Jombang, Jawa Timur.

Sebagian besar motif pembunuhan yang dilakukan Ryan karena sakit hati dan alasan ekonomi. Salah satunya terhadap korban Heri Santoso. Ryan mengaku cemburu karena Heri tertarik dengan Noval, kekasih Ryan.

Ryan membunuh Heri dan menguras uang di ATM milik Heri. Uang itu kemudian digunakan Ryan untuk foya-foya. Setelah kasus itu terungkap. Barulah polisi menerima laporan warga yang merasa kehilangan anggota keluarganya yang dikenal dekat dengan Ryan.

Total ada 10 korban lagi yang dibunuh Ryan di Jombang. Tujuh di antaranya ditemukan telah termutilasi. Ryan kemudian divonis hukuman mati dan bandingnya selalu ditolak.

Kisah pembunuhan Ryan ini kemudian diangkat ke dalam film dokumenter pada 17 Oktober 2010 di sebuah jaringan televisi yang dimiliki Astro All Asia Networks, Crime & Investigation Network.

Film dokumenter ini berjudul 'Ryan: The Smiling Serial Killer'. Film dokumenter ini berisi wawancara Ryan dan riwayat hidup serta aksi pembunuhannya.

4. Nyonya Astini

Astini Sumiasih alias Nyonya Astini menjadi salah satu dari sekian banyak pelaku pembunuhan. Bedanya, Astini terkenal karena pembunuhan berantai dengan cara memotong tubuhnya menjadi beberapa bagian pada sekitar 1996.

Kasus ini terungkap ketika warga Kampung Wonorejo, Surabaya, Jawa Timur menemukan potongan tubuh dalam kantong plastik di Sungai Wonorejo. Dari identifikasi kepolisian potongan tubuh itu milik Puji Astuti yang dibenarkan oleh pihak keluarga.

Penyelidikan berlanjut. Salah satu saksi mengaku terakhir kali melihat Puji sebelum hilang masuk ke rumah Astini di Kampung Malang.

Polisi kemudian menangkap Astini dan melakukan pengusutan. Dari hasil penyidikan, diketahui Astini tak hanya membunuh Puji, tetapi juga melakukan hal serupa kepada Rahayu dan Sri Astutik yang juga hilang dari Kampung Malang.

Dari pengakuannya, Astini membunuh ketiganya dan memutilasi mereka karena kesal dengan kata-kata kasar yang dilontarkan mereka saat menagih hutang.

Astini kemudian diadili dan dijatuhi hukuman mati pada Oktober 1996 oleh pengadilan. Dia dieksekusi mati dengan ditembak pada Maret 2005.

5. Rio Martil

Pria bernama lengkap Antonius Rio Alex Bulo ini juga tak kalah kejam. Rio alias Rio Martil dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan pada 2001 karena terbukti melakukan pembunuhan terhadap empat orang dengan martil atau palu kesayangannya.

Rio melakukan pembunuhan antara tahun 1997-2001. Tiga korban diantaranya dibunuh dengan dipukul menggunakan martil di bagian kepala. Motifnya mengambil mobil milik korban yang sebagian merupakan pengusaha rental mobil.

Rio sendiri sebelumnya memang pencuri spesialis mobil. Dia sempat dipenjara karena ulahnya tersebut. Selepas keluar penjara itulah, Rio tanpa segan membunuh para korbannya dengan martil yang selalu dia bawa saat beraksi. Setelah itu dia membawa kabur mobil milik korban.

Oleh PN Purwokerto, Rio kemudian divonis hukuman mati. Berbagai upaya mulai dari banding, kasasi, hingga pengajuan grasi selalu ditolak. Dia tetap harus menjalani hukuman mati.

Selama menunggu eksekusi, Rio mendekam di Lapas LP Kedung pane, Semarang sebelum dipindahkan ke Nusakambangan pada Agustus 2004. Di situlah Rio kembali membunuh korban kelimanya. Dia membunuh guru sekaligus teman satu selnya yang merupakan narapidana kasus korupsi, Iwan Zulkarnaen.

Rio membunuh Iwan dengan cara memukul dan membenturkan kepalanya ke tembok berkali-kali. Motifnya, Rio tersinggung ucapan Iwan yang menyebutnya sudah tidak bernyali. Rio kemudian dieksekusi mati pada 8 Agustus 2008 dini hari di Karangtengah, Cilongok, Banyumas. [Red]


Sumber; Kumparan