Amerika Akan Sita Aset Pastor Predator Seks Anak-anak Senilai Jutaan Dolar

Amerika Akan Sita Aset Pastor Predator Seks Anak-anak Senilai Jutaan Dolar



Pihak berwenang AS akan menyita aset pastor Apollo C. Quiboloy senilai jutaan dolar. Laura Eimiller, juru bicara Biro Investigasi Federal (FBI), mengatakan pihak berwenang federal percaya bahwa kekayaan Quiboloy adalah tidak halal. Demikian Philippine Daily Inquirer, 21/11.

“Kami biasanya berusaha untuk menyita semua keuntungan haram dari kejahatan yang dilakukan,” juru bicara FBI untuk Los Angeles, Laura Eimiller mengatakan kepada Inquirer pada Jumat (Sabtu pagi di Jakarta) pekan lalu.

Pengungkapan ini terjadi sehari setelah otoritas federal mendakwa Quiboloy, yang menyebut dirinya "anak Tuhan yang ditunjuk," dan delapan pegawainya terlibat dalam "konspirasi kriminal" yang mencakup perdagangan seks, perdagangan seks anak, pencucian uang, penghimpunan uang tunai massal, penyelundupan, penipuan pernikahan dan visa, dan pelanggaran hukum federal lainnya.

Eimiller juga mengatakan lebih banyak korban perdagangan seks mungkin akan keluar untuk membantu otoritas federal dalam kasus mereka melawan Quiboloy yang berusia 71 tahun dan pengikutnya di gereja besar Kerajaan Yesus Kristus (KOJC), The Name Above Every Name (Nama di atas Semua Nama), yang didirikan pada tahun 1985.

“Kami yakin ada korban tambahan di luar sana,” kata Eimiller, selain dari lima korban (termasuk tiga anak di bawah umur) yang disebutkan dalam dakwaan setebal 74 halaman yang disegel oleh dewan juri pada 10 November.

“Kami telah menjangkau beberapa kota di AS, dan kami berharap para korban ini akan maju dan berbicara dengan kami,” katanya.

Eimiller menyatakan dengan tegas bahwa Amerika Serikat akan meminta ekstradisi Quiboloy sehingga dia bisa diadili di Amerika. Sebuah perjanjian ekstradisi ada antara Amerika Serikat dan Filipina sejak 13 November 1994.

Menteri Kehakiman Menardo Guevarra dan juru bicara kepresidenan Karlo Nograles keduanya mengatakan pada hari Jumat bahwa pemerintah Filipina akan bekerja sama dengan Amerika Serikat jika meminta ekstradisi Quiboloy, teman dekat dan penasihat spiritual Presiden Rodrigo Duterte.

Tetapi seorang pengacara pendeta di Hawaii, Michael Green, mengatakan kepada Hawaii News Now TV bahwa ekstradisinya “tidak akan terjadi.”

“Saat ini kami mencari penangkapan mereka,” kata Eimiller, merujuk pada Quiboloy dan dua rekannya, Teresita Dandan dan Helen Panilag. Dandan dan Panilag, dua administrator KOJC, diyakini masih berada di Filipina, seperti pemimpin mereka, kata Departemen Kehakiman AS, Kamis pekan lalu.

Jika otoritas AS menyita aset kriminal itu, Quiboloy berisiko kehilangan beberapa aset utama kerajaan agamanya, termasuk Cessna Citation Sovereign, pesawat pribadi dengan nilai pasar saat ini sebesar US$18 juta, helikopter Bell 429, beberapa mobil mewah dan kepemilikan real estat, seperti rumah mewah bernilai jutaan dolar yang diduga dimilikinya di Calabasas, California, tempat orang kaya dan terkenal Amerika tinggal.

Properti lain yang dapat disita termasuk rumah di Las Vegas, Nevada dan di Kapolei, Hawaii, serta markas utama KOJC di Amerika Serikat dengan alamat di blok 14400 Vanowen Street, Van Nuys, California.

Quiboloy masuk radar otoritas AS sejak 13 Februari 2018, ketika dia ditahan selama sehari di Honolulu setelah petugas bea cukai menemukan suku cadang senjata, dan setidaknya US$335.000 (dalam dolar AS) dan A$9.000 (dalam dolar Australia) yang disembunyikan di bagasi pesawat terbang.

Namun dia tidak didakwa sehubungan dengan insiden itu dan saat itu diizinkan untuk kembali ke Filipina dengan penerbangan komersial.

Meskipun Cessna-nya disita, pesawat itu dikembalikan kepadanya sesudahnya. Namun ajudannya Felina Salinas, yang sekarang termasuk di antara sembilan terdakwa, ditahan selama sebulan setelah dia ditemukan berbohong dan memalsukan laporan kepada pejabat AS.

Dalam dakwaan yang dirilis ke media pada hari Kamis, Quiboloy akhirnya didakwa karena "secara sadar menyembunyikan lebih dari US$10.000 dalam mata uang" dalam perjalanan ke negara lain di luar Amerika Serikat, sebuah pelanggaran di bawah hukum federal. “Kami yakin dengan kasus kami saat kami menjalani proses pengadilan,” kata Eimiller. [Red]


Sumber: Gatracom