Menwa: Ketika Mahasiswa Jadi 'Antek' Orde Baru

Menwa: Ketika Mahasiswa Jadi 'Antek' Orde Baru



Resimen Mahasiswa (Menwa) pernah disambut hangat oleh Soekarno dan Soeharto. Organisasi berbau militeristik itu dianggap ujung tombak mahasiswa bela negara. Keterlibatan Menwa dalam operasi Trikoka hingga Dwikora, misalnya. Kepopulerannya membuat mahasiswa berbondong-bondong masuk Menwa. Namun, Orde Baru mengubah semuanya. Menwa bagai intel pengusaha yang mengontrol gerakan mahasiswa. Karenanya, Menwa sering jadi bagian tak terpisahkan dari rezim Orba.

Perjalanan Menwa sebagai unsur kekuatan sipil –mahasiswa— untuk mempertahankan negara tak perlu diragukan. Mereka turut berjasa dalam melanggengkan keamanan negara. Keterlibatan Menwa dalam serangkaian operasi bela negara jadi buktinya.

Menwa hadir dalam operasi Trikora, Dwikora, dan penumpasan G30S. Andil itu yang membuat Menwa dikenang sebagai wujud dari sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta. Buahnya, Menwa hadir dibanyak tempat. Universitas negeri atau swasta.

Menwa cukup populer kala itu. Sistem latihan Menwa yang mutakhir jadi pesonanya. Apalagi pola latih Menwa telah mengikuti sistem latihan wajib militer di ragam negara. Antara lain Israel, Taiwan, Korea, dan Singapura. Biasanya sebelum mahasiswa masuk Menwa, mereka lebih dulu mengenal aktivitas bela negara lewat mata kuliah kewiraan.

Menwa (Sumber: Wikimedia Commons)
Ambil contoh di Institut Pertanian Bogor (IPB). Sekalipun mata kuliah ini mudah dilalui, sensasi latihan ala militer nyatanya menjadi “candu” bagi sebagian besar mahasiswa. Demi menuangkan hasratnya berlatih militer, Menwa jadi pilihan utama.

“Mako (Markas Komando) Menwa bertempat di perguruan tinggi dan beranggotakan mahasiswa di kampus tersebut. Kegiatan ini istimewa lantaran langsung melapor ke rektor, berbeda dengan kegiatan kemahasiswaan lainnya: pers, olahraga, atau kesenian yang hanya ‘melapor’ ke Ketua Dewan Mahasiswa.”

“Setiap kampus mempunyai nama Menwa tersendiri: Mahatara untuk kampus-kampus Sumatra Utara, Mahajaya untuk kampus-kampus di DKI, Mahawarman untuk kampus-kampus di Jawa Barat, Mahacendra untuk kampus-kampus di Papua, dan Irian Jaya, dan sebagainya,” ungkap Yan Lubis dalam buku Baranangsiang (2019).

Hagemoni Menwa di kampus-kampus terlihat dari kebanggaan anggotanya yang menyerupai ABRI. Mereka begitu bangga dengan balutan seragam, atribut, dan sikap bak militer sungguhan. Saragam Menwa itu digunakan dalam tiap momentum. Tak jarang dalam lingkup kerja praktik, seragam Menwa selalu dikenakan. Untuk meningkatkan wibawa, katanya.

Adapun manfaat lainnya di balik aktif sebagai Menwa. Banyak di antara anggota Menwa mendapatkan potongan biaya transportasi kereta api sebanyak 50 persen. Pun mereka sering mendapatkan berbagai jatah makanan dan pakaian gratis.

Apalagi ketika habis terlibat dalam suatu kegiatan. Keuntungan itu makin bertambah karena pelatihan Menwa menempa mereka menjadi memiliki pengalaman organisasi yang cukup, berjiwa kepemimpinan, solidaritas, dan juga bangga terhadap almamater.

“Sementara kuliah dan berorganisasi di HMI, aku tetap mendayung becak pada sore sampai malam hari untuk uang kuliahku. Kadang-kadang memakai becak mesin yang disewakan Ayahku. Kalau tidak kuliah aku juga membantu menjaga kedai sampah. Selama kuliah aku masuk Rewa (Resimen Mahasiswa). Yang sekarang disebut Menwa.”

“Atribut Rewa pakaiannya seperti tentara, sepatu boots, ikat pinggang b├ęsar, dan memakai topi pet. Aku merasa bangga berpakaian seperti tentara. Rewa dibentuk oleh Jenderal A.H. Nasution untuk menghadapi gerakan Komunis yang merajalela, angkuh, dan sombong,” terang tokoh militer Indonesia, Kivlan Zen sebagaimana ditulis Titi Dewi dalam buku Kivlan Zen: Personal Memoranda, Dari Fitnah Ke Fitnah (2020).

Menwa zaman Orba

oleh jadi di zaman Orde Lama Menwa terkenal dengan heroisme. Namun, tak begitu dengan masa Orde Baru. Soeharto justru menjadikan Menwa sebagai antek Orba. Menwa dipilihnya sebagai bagian untuk melanggengkan kekuasaan Orba.

Di zaman itu, Menwa digerakkan oleh penguasa untuk mengontrol mahasiswa yang anti-pemerintah, terutama mereka yang membenci Soeharto. Jasa Menwa makin dibutuhkan Orba karena meletusnya Peristwa Melari 1974.

Sebuah peristiwa demonstrasi mahasiswa yang menyebabkan kerusuhan sosial. Tak mau peristiwa itu terulang, Soeharto mulai mengeluarkan kebijakan untuk melarang ekspresi dan kegiatan politik di kampus. Semua kegiatan mahasiswa harus di bawah kendali rektor universitas. Setelahnya, Menwa dilibatkan dalam fungsi pengawasan.

Pada tahun-tahun berikutnya, mata kuliah Pancasila --yang seperti Soeharto inginkan—diwajibkan sebagai ideologi. Selain itu, Soeharto juga melanggengkan operasi intelejen untuk meredam protes-protes dari mahasiswa yang anti pemerintah.

Salah satu yang menjadi intel pemerintah adalah Resimen Mahasiswa (Menwa) yang berbasis di kampus. Mereka tak cuma dijadikan kendaraan untuk mencari calon anggota militer di masa depan, tetapi Menwa turut menjelma menjadi jejaring intelejen di kampus, guna memantau mahasiswa lainnya.

“Segala bentuk unjuk rasa secara rutin dapat dihentikan oleh Menwa. Tercatat, antara tahun 1978, banyak di antara mahasiswa di penjara karena kegiatan politik. Banyak pula dari mereka yang dikriminalisasi karena melakukan penyimpangan dari ideologi negara. Yang paling parah, mereka dianggap membenci presiden dan wakil presiden,” tertulis dalam laporan Human Right Watch dalam buku Academic Freedom in Indonesia: Dismantling Soeharto – Era Barriers (1998).

Peran korps mahasiswa itu berhasil. Gerakan-gerakan mahasiswa yang berpotensi mengganggu jalannya pemerintahan segera dipangkas. Pemerintah Orba senang bukan main. Tapi tidak dengan kalangan mahasiswa lainnya. Kebencian kepada Menwa di antara mahasiswa semakin meningkat. Berkumpul sedikit mengkritik pemerintah, pasti ditangkap.

Semua itu karena peran Menwa. Pemerintah Orba sendiri seakan tutup mata dengan serangkaian aksi Menwa yang lebih tentara dari tentara sengguhan di kampus-kampus. Malahan, eksistensi Menwa coba diadaptasi oleh pemerintah di kampus-kampus di Timor Timur. Pemerintah membentuk Menwa untuk meredam gerakan mahasiswa yang berniat memperjuangkan upaya Timor Timur lepas dari Republik Indonesia.

“Mahasiswa Timor-Leste juga dijadikan sasaran oleh angkatan bersenjata Indonesia. Pada dekade 1990, Timor-Leste memiliki satu universitas dan satu politeknik. Resimen Mahasiswa (Menwa) dibentuk di kampus-kampus tersebut. Seperti halnya di Indonesia, Resimen Mahasiswa ini menjadi jalur bagi ABRI untuk melakukan indoktrinasi tambahan kepada mahasiswa di Timor-Leste.”

“Ini menjadi cara bagi ABRI untuk menyusup ke dalam organisasi-organisasi mahasiswa dan kelompok-kelompok klandestin di kampus. Mahasiswa Timor-Leste yang kuliah di Jawa dan Bali diharuskan bergabung dalam organisasi resmi mahasiswa dan pelajar Timor-Leste, Impettu (Ikatan Mahasiswa, Pemuda, dan Pelajar Timor Timur). Banyak orang Timor-Leste berada dalam pemantauan intelijen,” tandas Komisi Penerimaan Kebenaran dan Rekonsiliasi (CAVR) dalam buku Chega! (2010). [Red]


Sumber :Voi