Ayah Pelaku Persetubuhan Anak SMP: Jangan Bawa-bawa Nama DPRD

Ayah Pelaku Persetubuhan Anak SMP: Jangan Bawa-bawa Nama DPRD



Penyebutan nama anak anggota DPRD Pekanbaru oleh media sejak sepekan terakhir, diprotes oleh ayah pelaku, Jefri.

Anak Jefri, AR (20), memperkosa dan menyetubuhi anak di bawah umur yang duduk di bangku SMP berusia 15 tahun berinsial A. Ibu pelaku merupakan anggota DPRD Pekanbaru dari Partai Hanura.

Jefri meminta untuk tidak membawa nama DPRD dalam kasus menimpa anaknya AR (20).

"Jangan bawa DPRD-nya. Yang jelas, saya Jefri bertemu dengan Bapak Anis untuk melakukan kesepakatan perdamaian," ungkap Jefri, Sabtu (8/1/2022), saat konferensi pers di Mapolresta Pekanbaru.

Dalam konferensi pers tersebut, turut hadir Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Pria Budi, Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto serta kedua orang tua pelaku dan korban pemerkosaan.

Jefri membenarkan, kalau ia bertemu dengan orang tua korban, Anis, di sebuah kafe Jalan Thamrin, Gobah, Pekanbaru, Minggu (19/12/2021).

Jefri mengatakan, uang diserahkan kepada Anis Rp 80 juta merupakan uang untuk pendidikan korban, A (15).

"Yang jelas segitu kemampuan kita untuk pendidikan. Kesepakatan kami antara Jefri dan Anis, bukan Anggota DPRD-nya," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, kasus persetubuhan dilakukan anak anggota DPRD Pekanbaru, AR (20), berakhir damai dan laporan dicabut.

Walau berdamai disertai penyerahan uang Rp 80 juta, namun proses hukum tetap berjalan.

AR sebelumnya ditahan di Polresta Pekanbaru akhirnya dibebaskan dan diharuskan wajib lapor dua kali dalam seminggu.

Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru, Kompol Andrie Setiawan, sebelumnya mengatakan proses hukum terkait kasus pemerkosaan tersebut masih dalam penyidikan.

"Penyidik saat ini masih melengkapi keterangan saksi-saksi juga melengkapi kebutuhan formil dan materil dari perkara itu," ujar mantan Kasat Reskrim Polres Bengkalis tersebut.

Kompol Andrie menyebutkan musyawarah dilakukan AR dan A di luar konteks hukum, tidak berkaitan dengan proses penyelidikan maupun penyidikan.

"Kalau mereka tetap mengajukan upaya damai kepada kita bisa kita terima, tapi itu menjadi pertimbangan atas penanganan kasus yang kita tangani," jelasnya. [Red]


Sumber: Kumparan