Kelompok Bersenjata Bentrok Rebutan Bisnis Narkoba, 23 Tewas

Kelompok Bersenjata Bentrok Rebutan Bisnis Narkoba, 23 Tewas

Tentara Pembebasan Nasional (ELN)

Setidaknya 23 orang telah dilaporkan tewas akibat bentrokan yang terjadi antara kelompok gerilya yang bersaing di Provinsi Arauca, di perbatasan Kolombia dan Venezuela. Selain menelan korban tewas, kekerasan juga dikatakan telah memaksa 12 keluarga di sekitar lokasi untuk mengungsi.

Seperti diwartakan CNN hingga Reuters, pertempuran pada akhir pekan itu terjadi antara Tentara Pembebasan Nasional (ELN) dan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) yang menolak kesepakatan damai pada tahun 2016.

Menurut tentara Kolombia, kedua kelompok itu terlibat dalam persaingan sejumlah bisnis ilegal seperti perdagangan narkoba.

Informasi lanjutan soal pertempuran masih belum sepenuhnya diketahui lantaran area tempat bentrokan masih sulit dijangkau aparat. Namun, data awal petugas menunjukkan angka korban tewas telah mencapai 23 orang.   

"Kami sedang memproses angka awal 23 korban, tetapi informasinya masih belum jelas. Sangat sulit untuk memasuki area tempat bentrokan terjadi, jadi jumlah (korban) ini harus ditangani dengan hati-hati," kata juru bicara dari kantor Kejaksaan Agung, Paola Tovar kepada CNN. 

Pertempuran terbaru yang terjadi telah mengingatkan pertarungan serupa antara FARC dan ELN pada pertengahan tahun 2000-an. Pada masa itu, kedua kelompok itu sempat terlibat pertarungan sengit di Arauca dan negara bagian Apure di Venezuela.

Pertempuran antara keduanya baru berhenti pada tahun 2010, dan hasil dari perang itu, ribuan warga di Arauca telah mengungsi dan ratusan lainnya tewas. Kelompok advokasi Human Rights Watch (HRW) yang mengutip Colombian Victims yang dikelola pemerintah, mengungkap jumlah yang mengungsi mencapai lebih dari 58 ribu orang. Sementara jumlah warga sipil yang meregang nyawa menyentuh sedikitnya 868 jiwa. 

Lalu pada akhir Maret tahun lalu, Apure kembali menyaksikan pertempuran, dimana sejumlah kelompok bersenjata Kolombia terlibat konflik dengan militer Venezuela. Imbas dari pertarungan  itu, 5 ribu warga Apure dipaksa melarikan diri dari rumah-rumah mereka. 

Sementara dalam pertempuran terbaru, HRW mengaku telah menerima laporan 24 kematian. Penyelidik senior HRW, Juan Pappier juga menambahkan di Twitter  tentang adanya kasus pemindahan paksa dan penculikan.

"Kami sangat prihatin dengan pertempuran antara ELN dan para pembangkang dari front ke-10 FARC di Arauca dan Apure," kata Pappier.

Presiden Kolombia Ivan Duque berbicara dalam sebuah pernyataan tentang 23 orang yang tewas di Provinsi Arauca, Senin (3/1) - Reuters

Presiden Kolombia Ivan Duque, sementara itu, telah mengadakan pertemuan dengan para pemimpin militer dan polisi. Pertemuan ini dikatakan bertujuan untuk menilai situasi di Arauca dan mengambil tindakan untuk mengatasinya.

Namun, dalam pidatonya, Duque turut menuding Venezuela sebagai pihak yang melindungi para kelompok bersenjata itu.

"Saya telah memerintahkan agar dua batalyon dikerahkan dalam 72 jam ke depan untuk membantu tugas kontrol teritorial," kata Duque dalam siaran video, sambil menuduh Venezuela melindungi para pembangkang FARC dan ELN.

Mendengar peryataan Duque, Menteri Pertahanan Venezuela Jenderal Vladimir Padrino langsung memberi respons. Padrino pun terlihat menertawakan tuduhan Duque sambil menyebut bahwa militer Venezuela sebenarnya sudah meningkatkan kewaspadaan untuk menanggapi pertempuran di Kolombia.

"Pasukan militer Venezuela yang ditempatkan di kota-kota perbatasan telah meningkatkan tingkat kewaspadaan untuk menanggapi pertempuran di Kolombia," kata Padrino di Twitternya. [Red]


Sumber: Akurat